Sabtu, 24 Maret 2012

Toleransi

A.    Pengertian Toleransi
Didalam gambar sketsa selain bentuk proyeksi dan pencantuman ukuran, sangatlah diperlukan suatu petunjuk tambahan yang berfungsi memudahkan dalam pengerjaan benda kerja. Didalam sketsa benda kerja, kita sangat  memerlukan suatu batas ataupun syarat yang nantinya akan  sangat membantu didalam proses pemesinan benda tersebut. Didalam penunjukkan pengukuran diperlukan suatu batas-batas penyimpangan, sehingga nantinya suatu benda berpasangan akan cenderung lebih mudah dibuat dan dirangkaikan, sesuai dengan keinginan siperencana. Untuk itulah, didalam gambar sketsa, sangat dibutuhkan suatu penunjukkan ketelitian yang nantinya akan mempermudah proses produksi, yang sering kita kenal dengan istilah toleransi.
Penunjukkan toleransi sangatlah mutlak didalam pembuatan gambar, baik gambar sketsa maupun gambar kerja. Toleransi yang  digunakan didalam gambar kerja, adalah toleransi  berpasangan, yaitu berupa toleransi poros dan lubang. Didalam penunjukkan toleransi, terdapat beberapa penunjukan toleransi, yaitu : toleransi umum dan toleransi khusus, dimana keduanya mempunyai batas minimal dan maksimal dari ukuran nominal yang telah ditentukan.

B.    Jenis Toleransi
Toleransi yang akan dicantumkan didalam gambar sketsa yaitu :
1.    Toleransi Umum
Toleransi umum, adalah batas toleransi yang diijinkan, tanpa penunjukan pengkodean berupa huruf, biasanya toleransi ini berlaku menyeluruh pada benda kerja yang tidak memerlukan ketelitian yang tinggi, hanya saja semakin panjang ataupun semakin besar benda yang diproses, maka semakin besar juga toleransi yang dipergunakannya. Toleransi ini dibedakan menjadi 3 bagian, yaitu : toleransi panjang, toleransi radius dan kemiringan serta toleransi sudut. Berikut batas toleransi umum yang telah disyaratkan menurut SN. 258440
 2. Toleransi Khusus
Toleransi khusus digunakan untuk penggambaran yang  sangat memerlukan ketelitian yang khusus (ISO/R286).
 a. Standar toleransi untuk kualitas
Nilai standar toleransi untuk kualitas, ditentukan dari sifat toleransi dan kualitas IT yang menyertainya. Secara garis besar dapat dijabarkan dalam tabel berikut ini :

 
Tabel Standar toleransi untuk kualitas (I)

 
Tabel Standar toleransi untuk kualitas (II)

 
Tabel Standar toleransi IT 5 s/d. IT 11

Harga i, untuk batas toleransi adalah i=0,45×∛D+(0,001×D)
i    = Batas toleransi (µm) dan D    = diameter Benda kerja (mm).
Contoh permasalahan :
Jika diketahui suatu benda kerja mempunyai dimensi ukuran dengan diameter 25 mm, berapakah kualitas toleransinya menurut IT 8, IT 5 dan IT  2 ?
Jawab :
IT 8 dengan Batas Toleransi (µm) sebesar 25 x i
i=0,45×∛D+(0,001×D)
i=0,45×∛25+(0,001×25)
  =1,3158+0,025=1,3408 µm     
IT 8 = 25 x i = 25 x 1,3408  = 33,5 µm = 0,0335 mm
IT 5 dengan Batas Toleransi (µm) sebesar 7 x i (Tabel 4.6)
i=0,45×∛D+(0,001×D)
i=0,45×∛25+(0,001×25)
  =1,3158+0,025=1,3408 µm     
IT 5 = 7 x i = 7 x 1,3408  = 9,39 µm  = 0,00939 mm
IT 2 (diameter 25, merupakan range 18 – 30 mm, dengan IT 2 sebesar 2,5 µm = 0,0025 mm).


Daftar Isi:

0 Comments
Tweets
Komentar

0 komentar:

Poskan Komentar

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Bluehost Coupons