Showing posts with label Teknik Listrik dan Elektronika. Show all posts
Showing posts with label Teknik Listrik dan Elektronika. Show all posts

Tuesday, 27 November 2012

Kumpulan Aplikasi Elektro

Please download the FREE SOFTWARE below:
-CODEVISIONAVR PRO LATEST (TERBARU) C COMPILER AND PROGRAMMER FOR AVR

-CODEVISIONAVR PRO C COMPILER AND PROGRAMMER FOR AVR

-PROTEUS 7.7 PRO SP2  SIMULATOR FOR ELECTRICAL ENGINEERING

-AVRSTUDIO 4.18 COMPILER AND PROGRAMMER FOR AVR

-BASCOM AVR DEMO BASIC COMPILER FOR AVR

-EAGLE V5.7.0 PRO SCHEMATIC AND LAYOUT



-DIGITAL CIRCUIT SIMULATOR SIMULATOR FOR DIGITAL CIRCUIT

-CIRCUIT SHOP V1.09 CIRCUIT SIMULATOR

-WinAVR PROGRAMMER FOR AVR

-MIDE 51 ASSEMBLER COMPILER FOR MCS51 FAMILY

-TOP VIEW SIMULATOR MCS51 SIMULATOR FOR MCS51 FAMILY

-MIKRO C 8051 C COMPILER FOR MCS51 FAMILY

-PLC ZEN-SOFT01 ZEN SUPPORT SOFTWARE AND SIMULATOR PLC OMRON (OFFLINE)

-PLC SIMULATOR V1.00 (FINAL) SIMULATOR FOR PLC

-PSIM SIMULATOR FOR PLC

-RENDERSOFT CAMSTUDIO 2.0 DESKTOP RECORDER
 

Semoga bermanfaat...


Tuesday, 26 June 2012

kumpulan animasi


Download Animasi FLASH

Written By Djuhernaidi Jacub on Rabu, 17 Maret 2010 | 11:24:00 PM

Berikut ini beberapa ANIMASI FLASH FISIKA yang dapat di Download.
  1. ALAT UKUR (swf): DOWNLOAD DI SINI
  2. Jangka Sorong (swf): DOWNLOAD DI SINI
  3. GLBB (swf) : DOWNLOAD DI SINI
  4. GMB (rar) : DOWNLOAD DI SINI
  5. Efek Doppler (swf): DOWNLOAD DI SINI
  6. LISTRIK STATIS (swf): DOWNLOAD DI SINI
  7. KAPASITOR (Rar): DOWNLOAD DI SINI
  8. Pemuaian (swf): DOWNLOAD DI SINI
  9. Radiasi Benda Hitam (swf): DOWNLOAD DI SINI
  10. Teropong (swf): DOWNLOAD DI SINI
  11. Keseimbangan Benda Tegar
  12. Teori Kinetik Gas
  13. Teori Atom Bohr
  14. Gaya
  15. Energi Mekanik
  16. Lensa
  17. Cacat Mata
  18. Generator AC
  19. Siklus Carnot
Usaha dan Energi
Animasi hukum kekekalan energi mekanik. Download
Termodinamika
Animasi ekipartisi energi. Download
Animasi pemuaian. Download
Animasi perpindahan kalor. Download
Alat Optik
Animasi lensa. Download
Animasi teropong. Download
Listrik Magnet
Animasi alat ukur listrik. Download
Animasi listrik statis. Download
Animasi transistor. Download
Animasi kapasitor. Download
Animasi medan magnetik. Download
Animasi rangkaian RLC. Download

Fisika Modern
Animasi teori atom Bohr. Download
Animasi radiasi benda hitam. Download
Animasi reaksi inti. Download
Animasi radioaktif. Download



Animasi yang disediakan ini berbentuk flash, jadi bagi kawan-kawan yang membutuhkan software flash player dapat di download disini.


Monday, 9 April 2012

Potensi Penggunaan Solar Cell di Indonesia


sunshine 
Semakin besarnya kebutuhan masyarakat Indonesia akan energi baik dilingkungan keluarga sampai dengan  perindustrian, maka diperlukan suatu gagasan dimana bangsa kita dapat menghasilkan energi mandiri yang tentu sifatnya dapat diperbaharui. Perihal energi merupakan aspek yang sangat mempengaruhi pertumbuhan bangsa ini dibidang ekonomi, politik, sosial budaya, dan pertahanan & ketahanan sehingga pemerintah dituntut dapat melakukan eksplorasi dan eksploitasi potensi energi Indonesia dengan mandiri. Selama ini Indonesia lebih fokus melakukan eksplorasi dan eksploitasi yang terkandung di perut Ibu pertiwi seperti minyak, batu bara, dan gas bumi yang tentunya sifatnya tidak dapat diperbaharui dan akan habis suatu saat nanti.
Indonesia merupakan negara tropis dan juga dilewati garis khatulistiwa dimana kita dapat memanfaatkan sinar matahari secara maksimal sebagai sumber energi yang primer. Sinar matahari merupakan pancaran gelombang elektromagnet yang dapat serap dan dikonversi menjadi energi listrik. Di khatulistiwa, matahari berada tepat di atas kepala pada tengah hari dalam equinox sehingga sinar matahari yang kaya akan elektromagnet tersebut dapat dimanfaatkan.
Solar cell merupakan perangkat yang dapat melakukan konversi energi dari cahaya elektro magnet yang dipancarkan oleh matahari ke energi listrik dan kemudian dapat kita gunakan di kehidupan sehari-hari. Solar cell terdiri dari kumpulan bahan semi konduktor yang menyerap elektron dari sinar matahari, kemudian memaksimalkan foton, memperkecil refleksi dan remombinasi serta memperbesar konduktivitas dari bahannya.
Teknologi ini pertama kali digunakan untuk satelit diluar angkasa, dan kemudian dapat dimanfaatkan untuk energi pengganti bensin pada mobil (mobil tenaga surya), dan energi penerang dimalam hari di desa-desa terpencil. Dalam perkembangannya di Indonesia selain dapat dikembangkan melalui Pembangkit Listik Tenaga Surya, kita juga dapat menganti dinding maupun kaca yang terbuat dari solar cell di rumah-rumah penduduk dan gedung-gedung perkantoran dengan solar panel yang transparan sehingga kita dapat memanfaatkan energi yang dihasilkan dari bangunan kita sendiri. (Saut J Tambunan)
Rumah Huni yang menggunakan solar panel
Rumah Huni yang menggunakan solar panel
Taiwan Stadium yang 100% menggunakan solar cell untuk operasionalnya

Taiwan Stadium menggunakan 100% energi untuk operasionalnya dari solar panel



 


Monday, 2 April 2012

Charger Ponsel Darurat


Gambar.X. Ngecas BB 9300 pake cas darurat
Anda berada di negeri antah berantah ?
Ponsel anda low-bat ? ( ketahuan dari suara " ~tulalit~ " dari saku celana, tanda ponsel anda menjerit kelaparan, wkwkw :P )
Padahal schedule anda sangat ketat, seketat ban dalam yang dipompa hingga 37 Psi ( awas jeblug )
Dan di negeri tersebut tidak ditemukan colokan listrik ? ( presidennya minta dikuamplengi, masak rakyatnya ga kebagian jatah listrik, padahal bayar pajak, whoooo lha diasarr presiden gemblunk -___- )


Jangan khawatir, tuan2 nyonya2 ada obatnya
obatnya generik, dijamin manjur :D:D:D


Berikut adalah rancangan charger darurat khusus untuk ponsel dengan baterai 3.7 volt 800-1500 mAh

SKEMA KELISTRIKAN



Keterangan :
R1 = resistor 1 ohm ½ watt
R2 = resistor 1kiloohm  1 watt
S1 = saklar geser
F1 = sekring silinder 3 Amp + rumah
D1 = LED 3miliampere ( warna terserah )
4B = baterai ukuran AA 4 buah ( dianjurkan baterai rechargeable )

Bahan lain yang diperlukan :
-Wadah baterai AA isi 4
-Kabel 0.5 mm daleman kawat
-PCB ( cukup yang model bolong2 )
-baut hexagonal ( segienam ) 4 buah
-colokan ponsel sesuai model ponsel anda 
( yang ini cukup cari bekas aja, sayang kalo pake aslinya, hehe :D )

Perlengkapan kerja :
-solder
-timah solder ( tinol )
-spidol permanent
-lakban
-dobeltip busa
-sarung tangan
-kacamata
-secangkir teh manis :D
-cemilan secukupnya :D
-tukang pijat urat syaraf :D

lalu rangkailah seperti gambar-gambar di bawah ini :
Gambar.1. PCB yang dilubangi pake drill kemudian dipasangi 4 baut hexagonal untuk cover

Gambar.2. Pemasangan wadah baterai, cukup dilekatkan pake dobeltip busa, kuat kok

 Gambar.3. Pemasangan resistor

 Gambar.4. Posisi saklar

Gambar.5. Gunakan selalu sekring untuk rangkaian anda 
( maaf, betapa semrawutnya rangkaian saya, tapi berfungsi 100% lho )

 Gambar.6. Mur&baut

 Gambar.7. Baterai ukuran AA 4 biji 
( dianjurkan memakai baterai yang bisa dicas ulang
karena ABC Alkaline hanya bisa dicharge sekali saja,
setelah itu tidak bisa lagi
yang di gambar hanya contoh wujud baterai
yang digunakan )

 Gambar.8. PCB bolong2 ( belinya dua )

 Gambar.9. Resistor, LED, dan saklar

 Gambar.10. Sekring tabung 3 Amp + rumah

Gambar.11. Colokan ponsel sesuai model

 Gambar.12. Pengujian tegangan ( volt )

Gambar.13. Pengujian arus ( ampere )

Gambar.14. Produk setelah dirakit

Biaya yang diperlukan hanya sekitar Rp 10.000,- untuk rangkaian charger
Untuk baterai rechargeable nya sekitar Rp 10.000,-Rp 70.000,-  sampai Rp 100.000,-tergantung merk dan kwalitas

Di atas adalah Emergency Charger Type-1

penasaran dengan Type-2 ?
lihat di sini.

Selamat berkarya ! :D


Sunday, 1 April 2012

PROSES PEMBUATAN SOLAR CELL : PEMBUATAN SEL SURYA ( BAB 2 )

Pada dasarnya, pembuatan sel surya tidak ubahnya pembuatan microchip yang ada di dalam peralatan elektronika semisal komputer, televisi maupun alat pemutar musik digital MP3. Banyak teknologi yang dipakai oleh sel surya mengadopsi dan mengadaptasi teknologi pembuatan microchip karena teknologi microchip sudah mapan jauh sebelum booming sel surya yang baru muncul belakangan di akhir 1980-an.
Teknologi pembuatan microchip maupun sel surya sama-sama bersandar pada konsep nanoteknologi. Yakni sebuah konsep revolusioner dalam merekayasa perilaku dan fungsi sebuah sistem pada skala molekul atau skala nanometer (berdimensi ukuran se-per-milyar meter). Sistem yang dimaksud ini dapat berupa molekul-molekul, ikatan kimia, hingga atom-atom yang menyusun sebuah produk. Yang direkayasa ialah perilaku atom atau molekul-molekulnya tadi dengan jalan menyesuaikan kondisi pembuatan atau lingkungan molekul atau atom yang dimaksud. 

 








Gambar 1. Sebuah gambaran konsep dari Nanoteknologi. Saking kecilnya produk nanoteknologi, hingga seekor semut pun dapat turut membantu mengangkat sebuah microchip.

 
Sebagai contoh nyata yang umum pada dunia akademik maupun industri mikrochip ialah, kita dapat mengatur di mana sebuah molekul atau atom tersebut menempel di bagian tertentu pada komponen microchip atau sel surya, atau “memrintahkan” ia berpindah dari satu tempat ke tempat lain ketika arus listrik atau temperatur disesuaikan. Pengaturan atau perekayasaan perilaku molekul atau atom ini sangat berguna untuk menyesuaikan produk sebuah teknologi untuk keperluan sehari-hari. Hal ini terlihat jelas jika melihat kegunaan komputer dewasa ini yang semakin cepat dan poweful justru ketika ukuran prosesor-nya semakin kecil dan memori yang semakin padat. Atau kita melihat bagaimana rekayasa molekul dapat menghasilkan tanaman yang mengasilkan buah dan bibit yang berkualitas lebih unggul.

 
Gambar 2. Perbesaran dari bagian internal sebuah prosesor komputer/semikonduktor.





 
Yang kadang terlupakan, nanoteknologi tidak hanya menyentuh persoalan bagaimana membuat, namun juga bagaimana menguji dan mengamatinya, yang jelas membutuhkan alat yang sama-sama berangkat dari konsep yang sama dan dimensi ukuran yang sama. Semisal, ketika ingin mengetahui sebuah produk apakah bagus atau tidak, maka perlu melalui serentetan pengujian dan analisa yang berujung pada sebuah kesimpulan bagus atau jeleknya sebuah produk. Jika produknya memiliki ukuran satu helai rambut dibelah 1000, maka alat penguji dan pengamatnya harus mampu menjejak dengan ketelitian hingga sebesar itu pula.
Sesunggunya, nenoteknologi ini ialah konsep yang sangat mahal, mahal dalam arti kata sebenarnya. Sangat banyak prasyarat maupun biaya yang harus dipenuhi sebelum memulai sebuah penelitian dalam skala nanoteknologi, apalagi untuk membawanya ke arah komersialisasi yang melibatkan investasi yang tidak sedikit dan kerumitan yang tinggi.
Ada syarat kebersihan ekstra jika kita hendak mengadopsi konsep nanoteknologi. Semakin kecil sebuah produk, maka jika ada kotoran atau debu saja yang menempel pada produk tersebut (yang notabene berukuran sama), maka produk nanoteknologi tersebut tidak akan berfungsi dengan baik. Sehingga, salah satu investasi ekstra jika hendak menekuni nanoteknologi ialah membangun fasilitas entah itu pabrik atau laboratorium yang sangat-sangat bersih sesuai dengan standar yang berlaku, yang disebut dengan Clean Room (lihat gambar 3 berikut).


 
Gambar 3. Situasi di sebuah Clean Room. Perhatikan baju khusus anti debu yang dipakai para pekerja di sebuah Clean Room.







Standar pembuatan sel surya jenis silikon melalui beberapa proses implantasi (pemasukan) atom-atom lain ke dalam material silikon yang melibatkan proses kimiawi difusi gas pada temperatur di atas 800 derajat Celcius. Proses ini apabila tidak teliti akan mengakibatkan kebocoran dan sangat berbahaya karena mempergunakan gas yang beracun bagi kesehatan. Alat yang dipergunakan sendiri jelas harus mampu membangkitkan, mengatur dan mempertahankan proses di dalam temperatur tinggi tersebut. Pembuatan sel surya sendiri melalui beberapa tahap proses yang serupa dengan proses implantasi ini dalam temperatur yang berbeda-beda. Jelas tidak boleh terdapat adanya pengotor semacam debu yang ditolerir selama proses berlangsunng karena bila ada, maka sel surya akan gagal total.
Sebenarnya. jika kita melihat alat dan proses yangterlibat dalam pembuatan sel surya secara langsung, maka kesan angker dan sakralnya proses tersebut akan hilang dengan sendirinya (lihat gambar 4 di bawah ini). Prosesnya melibatkan otomatisasi dan komputerisasi. Alatnya sendiri terbungkus rapi di dalam sebuah lemari besi berjendela kaca sehingga aman ketika dioperasikan. Hanya saja, untuk berinvestasi membeli, mempergunakan serta merawat alat tersebut, biaya yang dikeluarkan sangatlah mahal untuk ukuran kita sehingga mustahil bagi industri kecil apalagi perseorangan untuk membuat sel surya sendiri. Terlebih dalam menyediakan gas khusus yang dibutuhkan untuk implantasi atom yang tidak sembarangan dalam penanganannya.

 
 
Gambar 4. (Kiri) Salah satu alat untuk melakukan proses difusi atom ke dalam silikon yang mengandalkan plasma. (Kanan) Tipikal alat pembuatan sel surya yang telah terintegrasi dan terkompuiterisasi

Kerumitan pembuatan sel surya ada pada tahap pengecekan efisiensi sel yang baru dibuat. Memeriksa apakah sel surya itu dapat berfungsi dengan baik dan dengan efisiensi yang baik membutuhkan peralatan tersendiri dan tidak sembarangan untuk sekedar dirakit. Peralatan ini mensimulasikan besarnya energi cahaya matahari dan harus dikalibrasi dengan standar tertentu. Simulasi ini harus mendekati kondisi sebenarnya penyinaran cahaya matahari. Alat yang dperlukan untuk ini ialah solar simulator yakni alat yang mensimulasikan energi cahaya matahari dan mengukur respon sel surya terhadap cahaya matahari yang akhirnya menghitung efisiensi sel surya.



 
Gambar 5. (Atas) Prinsip kerja sebuah Solar Simulator, (Bawah) Solar simulator yang dijual di pasaran.

Untuk meniru energi yang dipancarkan oleh matahari, Solar Simulator ini dilengkapi dengan lampu yang berisi gas Xenon yang mampu memberikan kondisi yang nyaris persis sama dengan matahari. Sel surya yang hendak diukur efisiensinya, diletakkan di bagian yang telah ditentukan. Hasil akhir dari simulasi ini ialah berapa besar efisiensi dan daya yang mampu dihasilkan oleh sebuah sel surya. Biasanya pengukuran ini dilakukan pada tahap paling akhir pembuatan sel surya.


Apa yang dapat kita dilakukan?
Penulis melihat meski sel surya tidak dapat dikembangkan secara sembarangan, ada beberapa hal yang perlu dicermati sebagai pintu masuk terlibatnya masyarakat kita turut aktif mengembangkan sel surya. Penulis urutkan dari tingkatan paling ideal hingga yang paling realistis untuk dilakukan.

1. Peleburan dan pembuatan wafer silikon
Kalau negara kita mengklaim memiliki kekayaan alam pasir silika yang dapat diolah menjadi silikon, maka ini perlu dibuktikan dengan memproduksi sendiri silikon yang diperlukan. Negara kita cukup mampu dalam mengolah bijih-bijih logam dan mustinya mampu pula mengolah pasir silika menjadi bijih silikon. Namun, jika kemampuan finansial maupun teknik bangsa kita masih kalah jauh dengan negara yang sudah maju dalam pembuatan wafer silikon monokristal untuk semikonduktor, maka cukuplah membidik pangsa pasar wafer silikon polikristal untuk sel surya yang level pembuatannya relatif lebih mudah dilakukan.










Gambar 6. pasir silika, menunggu untuk diubah menjadi sel surya.

Sejatinya, industri wafer silikon ialah sebuah industri strategis berteknologi tinggi. Posisinya sama dengan industri dirgantara, kapal laut maupun industri baja. Hal ini berkaitan dengan peran vital silikon dalam industri elektronik. Tidak ada industri elektronik manapun yang tidak membutuhkan silikon. Bila sebuah gedung dapat berdiri tegak karena memanfaatkan baja dan pesawat dapat terbang karena menggunakan aluminium, maka komputer dan alat elektronika lain dapat berfungsi karena adanya wafer silikon ini.
Apabila negara kita dapat memiliki industrri strategis di bidang ini, maka kontribusi Indonesia terhadap industri dunia menjadi sangat siginifikan. Sebagai contoh terdekat dengan penulis saat ini, Korea Selatan saat ini menjadi pemimpin dalam bidang memori RAM komputer dengan merek Samsung maupun Hynix. Meski demikian, merka tetap bersikeras membuat wafer silikon sendiri demi mengurangi ketergantungan industri memorinya dari wafer silikon buatan luar. Efek positif dari pembuatan wafer sendiri ialah tingkat kecepatan suplai bahan baku wafer serta meningkatnya sisi konpetitif dan ekonomis dari memori buatan Korea di pasar dunia.

2. Impor mesin-mesin pembuatan sel surya.
Langkah China dalam memasarkan sel surya di negaranya maupun di pasaran dunia cukup menarik untuk dicermati. Industri-industri China tidak membuat material dasar wafer silikon untuk sel surya karena mereka tahu investasinya akan sangat besar. Mereka juga tidak memiliki kemampuan dalam membuat mesin-mesin yang dipergunakan pabrik-pabrik mereka untuk membuat sel surya dalam skala besar.



 
Gambar 7.  Mesin pembuat sel surya yang telah terintegrasi. Perlu ada investasi untuk membelinya dari luar negeri.

Hanya saja, strategi mereka ialah, mengimpor mesin-mesin pabrik dari Jerman sebagai bahagian dari investasi, serta mengimpor material silikon khusus untuk sel surya dari negaa-negara lain semisal, Jerman, Jepang dan Korea Selatan. Keunggulan komparatif upah pekerja yang murah, membuat sel-sel surya made in China saat ini bersaing di pasaran sel surya Eropa selain menjadi tuan rumah di negara sendiri tentunya. Hal ini penulis saksikan sendiri dalam ajang pameran dan konferensi ilmiah sel surya tahun 2005 di Shanghai, China. Mungkin strategi ini dalam jangka pendek bisa diterapkan di Indonesia.

3. Industri assembly.
Kerumitan pembuatan sel surya tidak terlalu ditemui pada proses enkapsulasi sel surya menjadi sebuah modul surya. Sebagai informasi, sel surya sendiri berukuran sekitar 5 x 5 atau 10 x 10 cm persegi. Sel sebesar ini hanya dapat mengkonversi cahaya matahari menjadi listrik berdaya sekitar 1 – 2 Watt saja. Untuk dapat digunakan secara praktis, seitar 30 hingga 50 buah sel surya ini dirangkaikan satu sama lain agar menghasilkan daya keluaran sekitar 50 hingga 75 Watt. Rangkaian sel surya ini disebut dengan modul surya dan modul surya-lah yang sebenarnya dijual dipasaran yang terdiri atas sekian buah sel surya (Gambar 8). Dengan menata seberapa besar kebutuhan listrik, maka tinggal dihitung saja berapa banyak modul surya yang perlu dibeli, kemudian digabung dan dirangkaikan kembali agar menghasilkan daya keluaran sesuai dengan kebutuhan listrik rumah tangga misalnya. Rangkaian modul surya ini disebut dengan panel surya.

 
Gambar 8. Contoh modul sel surya yang dipasarkan. Perhatikan adanya sel surya di dalam modul yang telah dirangkai dan dienkapsulasi menjadi satu susunan besar modul surya.

Sejauh yang penulis ketahui, proses enkapsulasi sel surya menjadi modul surya relatif lebih mudah dilakukan oleh industri menengah karena inti kegiatannya sama dengan proses assembly, atau merangkai sesuatu dari komponen-komponen yang sudah jadi. PT LEN, sebuah BUMN konon kabarnya sudah mampu meng-assembly sel surya menjadi modul surya yang siap dipasarkan. Melalui langkah ini. industri assembly sel surya tidak perlu berinvestasi pada penambangan, peleburan dan pembuatan wafer silikon. Jalan umum yang diambil hanyalah mengimpor sel surya yang sudah jadi, kemudian merangkainya menjadi modul dan menjualnya kembali ke pasaran. 

4. Pembuatan komponen pelengkap sel surya.
Hal terakhir yang mungkin penulis sarankan ialah menekuni pembuatan komponen sel surya (disebut dengan balance of system lihat Gambar 8), semacam inverter DC ke AC, kabel-kabel, aki atau baterei, beberapa kontroler yang penulis yakin sudah cukup dikuasai industri elektronika di Indonesia. Jelas keuntungan produk Indonesia yang relatif murah mustinya dapat merajai pasar komponen untuk sel surya di tanah air. Sebagai tambahan, mungkin desain perumahan atau gedung yang siap merespon pemakaian sel surya di Indonesia dapat menjadi lahan bagus buat para arsitek.


 
Gambar 9. Komponen-komponen pelengkap sel surya agar dapat bekerja (Balance of System)


Antara Ilmu dan Investasi

Akhirul kalam, dengan menurunkan artikel ini, penulis agak khawatir telah menutup semangat dan cita-cita beberapa pengunjung Blog peminat sel surya yang berniat untuk mengusahakan sel surya sendiri, atau beberapa pihak yang telah melihat potensi alam Indonesia yang kaya pasir silika akan surut langkahnya untuk melirik energi alternatif lain di masa depan. Tidak kurang dari profesional, masyarakat awam hingga anggota direksi sebuah BUMN sempat menanyakan kemungkinan membuat sel surya sendiri.
Namun penulis berpegang bahwa itulah manfaat ilmu, yakni mengkaji dan meluruskan serta memberikan sebuah rekomendasi sebagai respon atas pandangan umum di tengah-tengah masyarakat mengenai sebuah produk teknologi, dalam hal ini sel surya. Sel surya sebagai produk teknologi tidak lepas dari peran investasi sebagai konsekuensi logis dari visi produksi massal sel surya guna mengatasi tantangan energi di masa depan. Tanpa investasi baik dalam tataran penelitian, pengembangan maupun produksi, hasil teknologi tidak dapat dinikmati oleh masyarakat luas melainkan teronggok di dalam lemari perpustakaan atau sekedar bahan laporan akhir atau sekedar karya ilmiah kecil.
Sebagai penutup, penulis menegaskan bahwa negara kita apalagi kita perseorangan, tidak mungkin alias mustahil membuat sel surya sendiri meski dengan menggunakan bahan-bahan alam dari bumi pertiwi tanpa investasi besar dan langkah yang serius. Mungkin pemerintah perlu segera membuat langkah nyata agar investor antuisias menanamkan modal untuk mengolah potensi silikon serta membangun iklim penelitian dan investasi di area sel surya yang kondusif. Dengan catatan, pemerintah musti sudah bervisi ke depan mempersiapkan konsep energi yang berkelanjutan, bersih dan murah.


This article was copied with some edit from link below : 


Cara Kerja Solar Cell


 
Gambar.1. Panel surya

Teman teman mungkin pernah melihat kalkulator yang mempunyai sel surya kan? kalkulator yang tidak perlu baterai, dan dalam beberapa kasus bahkan tidak memiliki tombol off. Selama Anda memiliki cahaya yang cukup, maka kalkulator ini dapat on kapan pun selama apapun. Anda mungkin telah melihat panel surya yang lebih besar, seperti pada perumahan ataulampu lampu lalu lintas jalanan bukan? nah disini saya akan sedikit mengulas bagaimana cara kerja sebuah colar cell sehingga dapat menghantarkan energi dan menggerakkan sebuah benda elektronik.
dewasa ini kebutuhan listrik telah menjadi kebutuhan utama di seluruh pelosok. kehadiran pembangkit listrik terkadang belum memecahkan kebutuhan akan listrik terutama pada daerah pelosok dimana selalu medan dijadikan alasan, pada kasus tertentu di Indonesia ini malah sebuah dusun/desa telah mengajukan permintaan aliran listrik namun tidak di gubris dengan alasan tertentu. Disini sebuah energi alternatif yang mudah di dapat di alam dan gratis bisa dijadikan alternatif energi yang tak kalah dengan aliran listrik konvensional, karena bisa mengasup energi alat alat elektronik rumah tangga seperti Televisi, radio dan lampu.
Dengan memanfaatkan Energi tak terhabiskan yaitu matahari, dengan memanfaatkan radiasi surya. berikut ulasan mengenai radiasi surya yang saya dapat dari Buletin litbang departemen pertahanan Indonesia. Sel surya terbuat dari potongan silikon yang sangat kecil dengan dilapisi bahan kimia khusus untuk membentuk dasar dari sel surya. Sel surya pada umumnya memiliki ketebalan minimum 0,3 mm yang terbuat dari irisan bahan semikonduktor dengan kutub positif dan negatif. Tiap sel surya biasanya menghasilkan tegangan 0,5 volt. Sel surya merupakan elemen aktif ( Semikonduktor ) yang memanfaatkan efek fotovoltaik untuk merubah energi surya menjadi energi listrik.



 Gambar 2 & 3. Konstruksi dan cara kerja sel surya

Pada sel surya terdapat sambungan ( junction ) antara dua lapisan tipis yang terbuat dari bahan semikonduktor yang masing-masing diketahui sebagai semikonduktor jenis “P” ( positif )  dan  semikonduktor  jenis  “N” ( negatif ).
Semikonduktor jenis-N dibuat dari kristal silikon dan terdapat juga sejumlah material lain ( umumnya posfor ) dalam batasan bahwa material tersebut dapat memberikan suatu kelebihan elektron bebas.
 Elektron adalah partikel sub atom yang bermuatan negatif, sehingga silikon paduan dalam hal ini disebut sebagai semikonduktor jenis-N ( Negatif ). Semikonduktor jenis-P juga terbuat dari kristal silikon yang didalamnya terdapat sejumlah kecil materi lain ( umumnya boron ) yang mana menyebabkan material tersebut kekurangan satu elektron bebas. Kekurangan atau hilangnya elektron ini disebut lubang ( hole ). Karena tidak ada atau kurangnya elektron yang bermuatan listrik negatif maka silikon paduan dalam hal ini sebagai semikonduktor jenis-P ( Positif ).
Susunan sebuah solar cell, sama dengan sebuah dioda, terdiri dari dua lapisan yang dinamakan PN juction. PN junction itu diperoleh dengan jalan menodai sebatang bahan semikonduktor silikon murni ( valensinya 4 ) dengan impuriti yang bervalensi 3 pada bagian sebelah kiri, dan yang di sebelah kanan dinodai dengan impuriti bervalensi 5.


 Keterangan :

 Gambar.4. Pengaruh medan listrik di sel surya ( PV cell )

 Keterangan :

 Gambar.5. Cara kerja PV cell

Keterangan :


Gambar.6. Struktur lembaran sel surya pada panel surya

Sehingga pada bagian kiri terbentuk silikon yang tidak murni lagi dan dinamakan silikon jenis P, sedangkan yang sebelah kanan dinamakan silikon jenis N. Di dalam silikon murni terdapat dua macam pembawa muatan listrik yang seimbang. Pembawa muatan listrik yang positip dinamakan hole, sedangkan yang negatip dinamakan elektron. Setelah dilakukan proses penodaan itu, di dalam silikon jenis P terbentuk hole ( pembawa muatan listrik positip ) dalam jumlah yang sangat besar dibandingkan dengan elektronnya. Oleh karena itu di dalam silikon jenis P hole merupakan pembawa muatan mayoritas, sedangkan elektron merupakan pembawa muatan minoritas. Sebaliknya, di dalam silikon jenis N terbentuk elektron dalam jumlah yang sangat besar sehingga disebut pembawa muatan mayoritas, dan hole disebut pembawa muatan minoritas.
 Di dalam batang silikon itu terjadi pertemuan antara bagian P dan bagian N. Oleh karena itu dinamakan PN junction. Bila sekarang, bagian P dihubungkan dengan kutub positip dari sebuah batere, sedangkan kutub negatipnya dihubungkan dengan bagian N, maka terjadi hubungan yang dinamakan “forward bias”.
Dalam keadaan forward bias, di dalam rangkaian itu timbul arus listrik yang disebabkan oleh kedua macam pembawa muatan. Jadi arus listrik yang mengalir di dalam PN junction disebabkan oleh gerakan hole dan gerakan elektron. Arus listrik itu mengalir searah dengan gerakan hole, tapi berlawanan arah dengan gerakan elektron. Sekedar untuk lebih menjelaskan, elektron yang bergerak di dalam bahan konduktor dapat menimbulkan energi listrik. Dan energi listrik inilah yang disebut sebagai arus listrik yang mengalir berlawanan arah dengan gerakan elektron.
Tapi, bila bagian P dihubungkan dengan kutup negatip dari batere dan bagian N dihubungkan dengan kutub positipnya, maka sekarang terbentuk hubungan yang dinamakan “reverse bias”. Dengan keadaan seperti ini, maka hole ( pembawa muatan positip ) dapat tersambung langsung ke kutub positip, sedangkan elektron juga langsung ke kutub positip. Jadi, jelas di dalam PN junction tidak ada gerakan pembawa muatan mayoritas baik yang hole maupun yang elektron. Sedangkan pembawa muatan minoritas (elektron) di dalam bagian P bergerak berusaha untuk mencapai kutub positip batere. Demikian pula pembawa muatan minoritas ( hole ) di dalam bagian N juga bergerak berusaha mencapai kutub negatip. Karena itu, dalam keadaan reverse bias, di dalam PN junction ada juga arus yang timbul meskipun dalam jumlah yang sangat kecil ( mikro ampere ). Arus ini sering disebut dengan reverse saturation current atau leakage current ( arus bocor ).
 Ada yang menarik dalam keadaan reverse bias itu. Bila suhu PN juction tsb dinaikkan ternyata dapat memperbesar arus bocor yang timbul itu. Berarti bila diberi energi (panas), pembawa muatan minoritas di dalam PN junction bertambah banyak. Karena cahaya itu merupakan salah satu bentuk energi, maka bila ada cahaya yang menimpa suatu PN junction dapat juga menghasilkan energi yang cukup untuk menghasilkan pembawa muatan. Gejala seperti ini dinamakan fotokonduktif. Berdasarkan gejala fotokonduktif itu maka dibuat komponen elektronik fotodioda dari PN junction itu.
Dalam keadaan reverse bias, dengan memperbesar intensitas cahaya yang menimpa fotodioda dapat meningkatkan aras arus bocornya. Arus bocor dapat juga diperbesar dengan memperbesar tegangan batere (tegangan reverse), tapi penambahan arus bocornya itu tidak signifikan. Bila batere dalam rangkaian reverse bias itu dilepas dan diganti dengan beban tahanan, maka pemberian cahaya itu dapat menimbulkan pembawa muatan baik hole maupun elektron. Jika iluminasi cahaya itu ditingkatkan, ternyata arus yang timbul semakin besar. Gejala seperti ini dinamakan photovoltaic. Cahaya dapat memberikan energi yang cukup besar untuk memperbesar jumlah hole pada bagian P dan jumlah elektron pada bagian N. Berdasarkan gejala photovoltaic ini maka dapat diciptakan komponen elektronik photovoltaic cell. Karena biasanya matahari sebagai sumber cahaya, maka photovoltaic cell sering juga disebut solar cell (sel surya) atau solar energy converter.
Jadi sel surya itu pada dasarnya sebuah foto dioda yang besar dan dirancang dengan mengacu pada gejala photovoltaic sedemikian rupa sehingga dapat menghasilkan daya yang sebesar mungkin. Silikon jenis P merupakan lapisan permukaan yang dibuat sangat tipis supaya cahaya matahari dapat menembus langsung mencapai junction. Bagian P ini diberi lapisan nikel yang berbentuk cincin, sebagai terminal keluaran positip. Di bawah bagian P terdapat bagian jenis N yang dilapisi dengan nikel juga sebagai terminal keluaran negatip.
Untuk mendapatkan daya yang cukup besar diperlukan banyak sel surya. Biasanya sel-sel surya itu sudah disusun sehingga berbentuk panel, dan dinamakan panel photovoltaic (PV). PV sebagai sumber daya listrik pertama kali digunakan di satelit. Kemudian dipikirkan pula PV sebagai sumber energi untuk mobil, sehingga ada mobil listrik surya. Sekarang, di luar negeri, PV sudah mulai digunakan sebagai atap atau dinding rumah. Bahkan Sanyo sudah membuat PV yang semi transparan sehingga dapat digunakan sebagai pengganti kaca jendela. Sel surya di Indonesia sudah mulai banyak dimanfaatkan, terutama sebagai energi penerangan di malam hari. Juga sudah dilakukan uji coba untuk membuat mobil tenaga surya. Sekarang, pemerintah sedang memikirkan untuk mengembangkan pemanfaatan sel surya ke daerah-daerah transmigrasi.
Setelah mendapatkan output dari solar cell yang berupa arus listrik dapat langsung digunakan untuk beban yang dimanfaatkan. Tetapi juga arus listrik tersebut dapat digunakan sebagai pengisian dengan cara disimpan ke dalam baterai agar dapat dipergunakan pada saat yang diperlukan khususnya pada malam hari karena tidak adanya sinar matahari.
Apabila solar cell tersebut digunakan untuk penyimpanan ke baterai, maka besarnya tegangan yang dihasilkan harus diatas spesifikasi baterai tersebut. Misalnya baterai yang digunakan adalah 12 Volt, maka tegangan yang dihasilkan solar cell harus diatas 12 Volt untuk dapat melakukan pengisian.
Sebaiknya sebelum melaksanakan pengisian sebaiknya baterai dalam keadaan kosong karena arus yang masuk akan dapat terisi dengan maksimal. Satuan kapasitas suatu baterai adalah Ampere jam ( Ah ) dan biasanya karakteristik ini terdapat pada label suatu baterai. Misalnya suatu baterai dengan kapasitas 10 Ah akan terisi penuh selama 10 jam dengan arus output solar cell sebesar 1 Ampere. 

Sumber:
howstuffworks.com
buletinlitbang.dephan.go.id
wikipedia.org
soton.ac.uk
esdalcollege.nl
unsw.edu.au

SOURCE >>


Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Bluehost Coupons